BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Setiap negara memiliki kekayaan alam
atau sumber daya alam yang berbeda-beda satu sama lain, oleh karena itu
dibutuhkannya komoditi yang tidak tersedia antara negara satu dan negara yang lain. Dengan adanya komidi
tersebut, akan terjadi perdagangan atau pertukaran komoditi antara negara satu
dan negara yang lain. Terjadilah kegiatan ekspor dan impor tiap negara. Seperti
yang dinyatakan oleh Amir (2001:1)
“Perdagangan
internasional ekspor impor adalah kegiatan yang dijalankan eksportir maupun
produsen eksportir dalam transaksi jual beli suatu komoditi dengan orang asing,
bangsa asing, dan negara asing. Kemudian penjual dan pembeli yang lazim disebut
eksportir dan importir melakukan pembayaran dengan valuta asing.”
Kinerja
ekspor Indonesia pada 2013 diperkirakan belum dapat pulih sepenuhnya setelah
mengalami defisit neraca perdagangan beberapa kali sepanjang 2012. Apalagi
pemulihan krisis Uni Eropa dan Amerika Serikat menunjukkan tren perbaikan yang
lamban ditambah masih adanya tren penurunan harga komoditas di pasar internasional.
Terbatasnya persediaan di suatu negara, kegiatan impor
pun digagas. Kegiatan ekspor impor juga dapat menumbuhkan hubungan harmonis antarbangsa. Dengan
perdagangan internasional ini, banyak pihak dilibatkan dan sama-sama mendapat
keuntungan, baik keuntungan hasil jual maupun keuntungan atas pemenuhan
kebutuhan. Ekspor impor juga merupakan salah satu lapangan pekerjaan yang besar
pengaruhnya bagi para pebisnis.
Pengutamaan ekspor bagi Indonesia sudah digalakkan
sejak tahun 1983. Sejak saat itu, ekspor menjadi perhatian dalam memacu pertumbuhan
ekonomi seiring dengan berubahnya strategi industrialisasi dari penekanan pada
industri substitusi impor ke industri promosi ekspor. Konsumen dalam negeri
membeli barang impor atau konsumen luar negeri membeli barang domestik, menjadi
sesuatu yang sangat lazim. Persaingan sangat tajam antar-berbagai produk.
Selain harga, kualitas atau mutu barang menjadi faktor penentu daya saing suatu
produk.
Berdasarkan permasalahan di atas, makalah ini
mengambil judul “Pengaruh Kegiatan Ekspor Impor terhadap Perekonomian di
Indonesia” sebagai bentuk karya tulis yang memaparkan tentang ekspor impor di
Indonesia.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang tersebut, diketahui bahwa ekspor impor banyak memberi pengaruh
terhadap perekonomian maka dapat diambil permasalahannya sebagai berikut:
1.
Bagaimana kegiatan ekspor impor dapat memengaruhi
perekonomian Indonesia?
2.
Kebijakan apa saja yang diupayakan pemerintah untuk
meningkatkan ekspor impor bagi perekonomian di Indonesia?
1.3 Tujuan Penilitian
Adapun makalah ini memiliki tujuan sebagai berikut:
1.
Untuk mengetahui cara kegiatan ekspor impor
memengaruhi perekonomian Indonesia.
2.
Untuk mengetahui berbagai macam kebijakan yang
diupayakan pemerintah untuk meningkatkan ekspor impor bagi perekonomian di
Indonesia.
1.4 Manfaat Penelitian
Adapun makalah ini memiliki manfaat sebagai berikut:
1.
Dapat menambah wawasan kepada pembaca atau masyarakat
luas tentang pengaruh ekspor impor bagi perekonomian di Indonesia.
2. Dapat
mengetahui atau lebih mengenal kelebihan dan kekurangan dari pengaruh
ekspor impor bagi perekonomian di
Indonesia.
1.5 Luaran yang Diharapkan
Berikut ini adalah luaran yang
diharapkan dengan dibuatnya makalah ini:
1.
Adanya kesadaran dari masyarakat tentang pengaruh
ekspor impor bagi perekonomian di Indonesia.
2.
Masyarakat lebih mengerti dan poeduli tentang
kelebihan dan kekurangan ekspor impor bagi perekonomian di Indonesia.
1.6 Kegunaan
1. Untuk
Mahasiswa
·
Untuk
memperluas wawasan pembaca tentang pengaruh ekspor impor untuk perekonomian
Indonesia.
·
Agar mahasiswa
mengerti perkembangan dan permasalahan kegiatan ekspor impor.
2. Untuk Masyarakat
·
Agar
masyarakat mengerti tentang kekurangan dan kelebihan dari pengaruh ekspor impor
untuk perekonomian Indonesia.
·
Agar
menambah wawasan masyarakat tentang pengaruh ekspor impor untuk perekonomian
Indonesia.
BAB II
KAJIAN TEORI
Ekspor adalah
proses transportasi barang atau komoditas dari suatu negara ke negara lain
secara legal, umumnya dalam proses perdagangan. Proses ekspor pada umumnya
adalah tindakan untuk mengeluarkan barang atau komoditas dari dalam negeri
untuk memasukannya ke negara lain. Ekspor barang secara besar umumnya
membutuhkan campur tangan dari bea cukai di negara pengirim maupun penerima.
Ekspor adalah bagian penting dari perdagangan internasional.
Impor adalah
proses transportasi barang atau komoditas dari suatu negara ke negara lain
secara legal, umumnya dalam proses perdagangan. Proses impor umumnya adalah
tindakan memasukan barang atau komoditas dari negara lain ke dalam negeri.
Impor barang secara besar umumnya membutuhkan campur tangan dari bea cukai di
negara pengirim maupun penerima. Impor adalah bagian penting dari perdagangan
internasional.
Pengutamaan ekspor bagi Indonesia sudah digalakkan sejak
tahun 1983. Sejak saat itu, ekspor menjadi perhatian dalam memacu pertumbuhan
ekonomi seiring dengan berubahnya strategi industrialisasi dari penekanan pada
industri substitusi impor ke industri promosi ekspor. Konsumen dalam negeri
membeli barang impor atau konsumen luar negeri membeli barang domestik, menjadi
sesuatu yang sangat lazim. Persaingan sangat tajam antarberbagai produk. Selain
harga, kualitas atau mutu barang menjadi faktor penentu daya saing suatu
produk.
Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia pada periode Januari-Oktober
2008 mencapai USD118,43 miliar atau meningkat 26,92 persen dibanding periode
yang sama tahun 2007, sementara ekspor nonmigas mencapai USD92,26 miliar atau
meningkat 21,63 persen. Sementara itu menurut sector ekspor hasil pertanian,
industri, serta hasil tambang dan lainnya pada periode tersebut meningkat
masing-,masing 34,65 persen, 21,04 persen, dan 21,57 persen dibandingkan
periode yang sama tahun sebelumnya.
BAB III
METODE
PENILITIAN
3.1 Rancangan Penelitian
Penelitian
ini menggunakan metode kualitatif. Dalam penelitian ini mendeskripsikan
kegiatan ekspor impor.
Ekspor
impor adalah proses transportasi barang atau komoditas dari suatu Negara ke
Negara lain secara legal, umumnya dalam proses perdagangan. Proses ekspor impor
terjadi karena ketidak tersediaannya barang atau komoditi dalam suatu Negara
tersebut sehingga terjadi kegiatan ekspor impor.
3.2 Data Penelitian
Data yang diambil adalah kegiatan
ekspor impor Indonesia dan pengaruh ekspor impor Indonesia.
1. Kegiatan
ekspor impor Indonesia
Produk kegiatan ekspor impor Indonesia adalah barang
konsumsi dan bahan baku. Barang konsumsi merupakan kebutuhan sehari-hari
sedangkan bahan baku merupakan barang-barang yang diperlukan untuk kegiatan
produksi industri.
2.
Pengaruh ekspor impor Indonesia
Pengaruh
untuk masyarakat, memperluas pasar bagi produk Indonesia. Semakin luasnya pasar
bagi produk Indonesia, maka kegiatan dalam negeri akan meningkat semakin banyak
sehingga banyak pula tenaga kerja yang dibutuhkan.
Pengaruh untuk negara, dengan
semakin banyaknya transaksi kegiatan ekspor impor maka akan menambah devisa dan
kekayaan Negara akan bertambah.
3.3 Sumber Data
Sumber data yang didapat nilai
ekspor Indonesia pada periode Januari – Februari 2008 mencapai USD 118,43 M
atau meningkat 26,92 % dibanding periode yang sama tahun 2007, sementara ekspor
non migas mencapai USD 92,26 M atau meningkat 21,63%. Sementara itu menurut
sektor ekspor hasil pertanian, industri, serta hasil tambang dan lainnya. Pada
periode tersebut meningkat masing – masing 34,65%; 21,04%; dan 21,57%
dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
3.4 Teknik Pengumpulan Pengaruh Kegiatan Ekspor Impor
Terhadap Perekonomian di Indonesia
Adapun teknik pengumpulan data yang kami gunakan dalam
penyusunan makalah ini, sebagai berikut:
1. Teknik simak catat, mengulas pembahasan tentang pengaruh kegiatan ekspor
impor di Indonesia, setelah itu catat
poin-poin yang dapat dianalisis untuk bahan makalah ini.
2. Teknik mengunduh, pengaruh kegiatan ekspor dan
impor ini mengambil
data pembaca yang bersumber dari internet
3. Teknik reduksi data, pengaruh kegiatan ekspor dan impor ini setelah mengunduh data dari internet kami meredaksi
data.
4. Teknik penyajian data,
5. Teknik interprestasi,
6. Teknik penarikan simpulan pengaruh kegiatan dengan cara mengembil garis besar.
3.5 Teknik Analisa Data
Analisis dan Hasil Pembahasan
Analisis pengaruh ekspor dan impor bagi
perekonomian di Indonesia
·
Data
Data yang didapat merupakan data
sekunder yang berupa laporan atau data dari pihak tertentu. Data didapat dari
berbagai macam sumber. Salah satunya gambaran data menurut State Statistical
Bureau, dilihat dari pertumbuhan ekonomi cina sebagai berikut :
Tahun
|
Pertumbuhan
|
1998
1999
2000
2001
2002
|
7,8%
7,1%
8%
6%
7%
|
Nilai GDP tahun 1998 sebesar US$ 960,8
milyar sedangkan pada tahun 2000 mencapai US$ 1,078 triliyun. Untuk tahun 2001
dari Januari-September mencapai US$ 810 milyar. Prediksi untul tahun 2002
mencapai US$ 1,51 triliyun. Pencapaian ini melebihi negara-negara lainnyaa di
Asia. Kenaikan GDP sebesar 7,1 % pada tahun 1999 melebihi perkiraan sebelumnya,
sebesar 6,6 %. Pada tahun 2000, GDP mencapai kenaikan 8%, melebihi perkiraan
sebelumnya yaitu 7,5%.
·
Ekspor di Indonesia
Pada sumber UNCTAD dalam Hasibuan
(2001) mencatat, pangsa pasar manufaktur dan pertanian dalam ekspor total di
Indonesia (dalam persen) adalah :
Pangsa Pasar Manufaktur dan Pertanian
Dalam Ekspor Total di Indonesia (dalam persen)
Selama lima tahun terakhir (2005-2009)
pertumbuhan ekspor Indonesia cenderung meningkat sebesar 20%/pertahun, begitu
pula pertumbuhan impor cenderung meningkat sebesar 9,7%/tahun. Pada Tahun 2009
Indonesia menduduki peringkat ke-29 dalam ekspor dunia dan posisi ke-28 dalam
impor dunia. Selama tahun 2009, sektor Industri menyumbang 75,3%, pertambangan
20,2% dan pertanian 4,5 % terhadap total eskpor Indonesia. Negara yang menjadi
mitra Dagang utama Indonesia adalah Jepang, Amerika Serikat Singapura, RRC dan
India.
Secara kumulatif, nilai ekspor
Indonesia Januari – Oktober 2008 mencapai USD118,43 miliar atau meningkat 26,92
persen dibanding periode yang sama tahun 2007, sementara ekspor nonmigas
mencapai USD92,26 miliar atau meningkat 21,63 persen. Sementara itu menurut
sektor, ekspor hasil pertanian, industri, serta hasil tambang dan lainnya pada
periode tersebut meningkat masing-masing 34,65%, 21,04%, dan 21,57%
dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Data Badan Pusat Statistik
(BPS) menunjukkan selama Januari-Desember 2008 nilai ekspor sebesar US$136,76
miliar meningkat sebesar 19,86 persen dibanding ekspor pada periode yang sama
tahun sebelumnya. Ekspor nonmigas mencapai sebesar US$107,8 miliar atau
meningkat 17,16 persen
Jika dilihat dari sektoral,
pada 2008 kontribusi ekspor produk industri mencapai sebesar 64,38 persen,
tambang 10,84 persen, pertanian 3,61 persen, dan sisanya merupakan kontribusi
dari migas. Dimana apabila dibandingkan dengan periode yang sama tahun
sebelumnya sektor pertanian mengalami peningkatan sebesar 34,98 persen,
pertambangan dan lainnya 24,62 persen, serta industri sebesar 15,15 persen.
·
Impor
di Indonesia
Dalam tahun 2000, Indonesia merupakan
negara urutan ke-14 sebagai negara tujuan ekspor china, dan urutan ke-13
sebagai negara sumber impor china (Atase Perindag, 2000)
Menurut catatan CBS ekspor China ke
Indonesia tahun 2000 sebesar 3,06 milyar dollar AS, naik sebesar 60%
dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 906 juta dollar AS. Untuk tahun 2001
sampai bulan september sebesar 2,12 milyar dollar AS turun 6, 19%, dibandingkan
periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 2,18 milyar dolar AS.
Nilai ekspor RRC ke Indonesia terdiri
atas Migas dan Non Migas. Untuk migas ternyata mengalami kenaikan
pesat 189,21% yakni dari 95,55 juta $ menjadi 276,35 juta $.
·
Eksplorasi Data
Di Indonesia sudah sering sekali
melakukan kegiatan ekspor impor. Ada beberapa provinsi yang sering
sekali mengimpor barang dari luar negeri,
Tidak hanya mengimpor, Indonesia juga
merupakan negara pengekspor barang – barang tertentu, salah satu contoh hasil
perkebunan yaitu tembakau. Tembakau Indonesia menempati posisi 7 dalam sepuluh
negara terbesar produsen daun tembakau pada tahun 2002 sebesar 144.700 ton.
Hampir seluruh (96%)
produksi tembakau Indonesia berasal dari tiga propinsi. Produksi tembakau
terbanyak adalah di propinsi Jawa Timur (56%) kemudian Jawa Tengah
(23%) dan NTB (17%) dan sisanya di Yogyakarta, Sumatera
Utara, Jawa Barat dan Bali.
Kegiatan impor yang dilakukan indonesia
salah satunya adalah impor beras. Bulog biasanya mengimpor beras dari negara-negara
tetangga. Sebagai sampel negara Thailand, India, dan Vietnam merupakan salah
satu negara yang sering diimpor berasnya oleh indonesia. Berdasarkan data Bulog
per 30 Mei, impor beras dari Thailand kuota 200.000 ton dengan mekanisme G to G
baru terealisasi sebanyak 35.700 ton. Padahal batasan impor jatuh pada bulan
Juni. Hingga kini, realisasi izin impor beras kuota 1,5 juta ton, baik
mekanisme tender maupun G to G dengan Thailand dan Vietnam, baru terealisasi
sebanyak 640.421 ton dari kontrak sekitar 1,12 juta ton.
·
Variabel dan Indikator
Ekpor impor termasuk dalam indikator
perekonomian yang berguna untuk memajukan perekonomian suatu negara. Ekspor
impor juga merupakan indikator makroekonomi. Dari data ekspor, impor, dan tradebalance
(ekspor minus impor) Indonesia, baik perdagangan yang terjadi dengan mitra
dagang di dalam kawasan ASEAN(intra-ASEAN) maupun di luar kawasan
ASEAN(extra-ASEAN).
Semua indikator perdagangan
internasional tumbuh sekitar 0,5%-2,5% untuk periode 1993-2001, kecuali
indikator ekspor Indonesia di luar ASEAN (extra-ASEAN) yang pertumbuhannya nol
persen (0%) untuk periode yang sama. Pertumbuhan tersebut dapat dilihat secara
visual pada gratik 1-3.
Variabel penting dalam perekonomian
terdiri dari Ekspor tahun berjalan, Ekspor tahun lalu, (ekspor – impor) tahun
lalu, Hutang LN tahun lalu, Devaluasi dari tahun 1984-2001. selain variabel
tersebut, ada juga jumlah produksi, banyaknya ekspor, harga FOB serta nilai
ekspor neto produk.
Bab IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Kegiatan
Ekspor dan Impor Mempengaruhi Perekonomian di Indonesia
Pengutamaan
ekspor bagi Indonesia sudah digalakkan sejak tahun 1983. Sejak saat itu, ekspor
menjadi perhatian dalam memacu pertumbuhan ekonomi seiring dengan berubahnya strategi
industrialisasi dari penekanan pada industri substitusi impor ke industri
promosi ekspor. Konsumen dalam negeri membeli barang impor atau konsumen luar negeri membeli
barang domestik, menjadi sesuatu yang sangat lazim. Persaingan sangat tajam
antar berbagai produk.
Selain
harga, kualitas atau mutu barang menjadi faktor penentu daya saing suatu
produk. Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari – Oktober 2008
mencapai USD118,43 miliar atau meningkat 26,92% dibanding periode yang sama
tahun 2007, sementara ekspor nonmigas mencapai USD92,26 miliar atau meningkat
21,63%. Sementara itu menurut sektor, ekspor hasil pertanian, industri,
serta hasil
tambang dan lainnya pada periode tersebut meningkat masing-masing 34,65%,
21,04%, dan 21,57% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Adapun
selama periode ini pula, ekspor dari 10 golongan barang memberikan kontribusi
58,8% terhadap total ekspor nonmigas. Kesepuluh golongan tersebut adalah, lemak
dan minyak hewan nabati, bahan bakar mineral, mesin atau peralatan listrik,
karet dan barang dari karet, mesin-mesin atau pesawat mekanik. Kemudian ada
pula bijih, kerak, dan abu logam, kertas atau karton, pakaian jadi bukan
rajutan, kayu dan barang dari kayu, serta timah. Selama periode Januari – Oktober
2008, ekspor dari 10 golongan barang tersebut memberikan kontribusi sebesar
58,80% terhadap total ekspor nonmigas. Dari sisi pertumbuhan, ekspor 10
golongan barang tersebut meningkat 27,71% terhadap periode yang sama tahun 2007.
Sementara itu, peranan ekspor nonmigas di luar 10 golongan barang pada Januari
– Oktober 2008 sebesar 41,20%.
Peranan
dan perkembangan ekspor nonmigas Indonesia menurut sektor untuk periode Januari
– Oktober tahun 2008 dibanding tahun
2007 dapat dilihat pada. Ekspor produk pertanian, produk industri serta produk
pertambangan dan lainnya masing-masing meningkat 34,65%, 21,04%, dan 21,57%.
Dilihat
dari kontribusinya terhadap ekspor keseluruhan Januari-Oktober 2008, kontribusi
ekspor produk industri adalah sebesar 64,13%, sedangkan kontribusi ekspor
produk pertanian adalah sebesar 3,31%, dan kontribusi ekspor produk
pertambangan adalah sebesar 10,46%, sementara kontribusi ekspor migas adalah
sebesar 22,10%.
Secara
keseluruhan kondisi ekspor Indonesia membaik dan meningkat, tak dipungkiri
semenjak terjadinya krisis finansial global, kondisi ekspor Indonesia semakin
menurun. Ekspor per September yang sempat mengalami penurunan 2,15% atau
menjadi USD12,23 miliar bila dibandingkan dengan Agustus 2008. Namun, dari
tahun ke tahun mengalami kenaikan sebesar 28,53%.
Keadaan impor di Indonesia tak selamanya dinilai bagus,
sebab menurut golongan penggunaan barang, peranan impor untuk barang konsumsi
dan bahan baku/penolong selama Oktober 2008 mengalami penurunan dibanding bulan
sebelumnya yaitu masing-masing dari 6,77 persen dan 75,65 persen menjadi 5,99
persen dan 74,89 persen. Sedangkan peranan impor barang modal meningkat dari
17,58 persen menjadi 19,12 persen. Sedangkan dilihat dari peranannya terhadap
total impor nonmigas Indonesia selama Januari-Oktober 2008, mesin per pesawat
mekanik memberikan peranan terbesar yaitu 17,99 persen, diikuti mesin dan
peralatan listrik sebesar 15,15 persen, besi dan baja sebesar 8,80
persen,
kendaraan dan bagiannya sebesar 5,98 persen, bahan kimia organik sebesar 5,54 persen,
plastik dan barang dari plastik sebesar 4,16 persen, dan barang dari besi dan
bajasebesar 3,27 persen. Selain itu, tiga golongan barang berikut diimpor
dengan peranan di bawah tiga persen yaitu pupuk sebesar 2,43 persen, serealia
sebesar 2,39 persen, dan kapas sebesar 1,98 persen. Peranan impor sepuluh
golongan barang utama mencapai 67,70 persen dari total impor
nonmigas dan 50,76
persen dari total impor keseluruhan.
4.2 Kebijakan yang Diupayakan
Pemerintah untuk Meningkatkan Ekspor Impor di Indonesia.
Beberapa
ekonom menyebutkan bahwa Indonesia mengalami perbaikan ekonomi. Pasar
internasional juga sedang menunjukkan pemulihan dengan kemampuan pasar yang berpotensi
menyerap pasokan produk industri nasional. Jadi ada peluang meningkatkan
kinerja ekspor bila Indonesia bisa mengoptimalkan kapasitas produksi dalam
negeri karena pulihnya pasar global. Tentu merumuskan kebijakan ekspor yang
menjamah permasalahan semua lini bisnis dalam perdagangan internasional menjadi
penting. Prestasi mengangkat kembali nilai ekspor tergantung dari kebijaksanaan
ekonomi yang ditempuh baik yang berada dalam lini bisnis vital maupun pendukung
secara kuantitatif.
Kebijakan-Kebijakan
perdagangan Internasional yang telah diupayakan oleh pemerintah, diantaranya:
1. Tarif
Tarif
adalah sejenis pajak yang dikenakan atas barang-barang yang diimpor. Tarif spesifik
(Specific Tariffs) dikenakan sebagai
beban tetap atas unit barang yang diimpor. Misalnya $6 untuk setiap barel
minyak). Tarifold Valorem (od Valorem
Tariffs) adalah pajak yang dikenakan berdasarkan persentase
tertentu dari nilai barang-barang yang diimpor (misalnya, tarif 25 % atas mobil
yang diimpor). Dalam kedua kasus dampak tarif akan meningkatkan biaya pengiriman
barang ke suatu negara.
2. Subsidi
ekspor
Subsidi
ekspor adalah pembayaran sejumlah tertentu kepada perusahaan atau perseorangan
yang menjual barang ke luar negeri, seperti tarif, subsidi ekspor dapat
berbentuk spesifik (nilai tertentu per unit barang) atau Od Valorem (presentase
dari nilai yang diekspor). Jika pemerintah memberikan subsidi ekspor, pengirim
akan mengekspor, pengirim akan mengekspor barang sampai batas dimana selisih
harga domestik dan harga luar negeri sama dengan nilai subsidi. Dampak dari
subsidi ekspor adalah meningkatkan harga di negara pengekspor sedangkan di
negara pengimpor harganya turun.
3. Pembatasan
impor
Pembatasan
impor (Import Quota) merupakan pembatasan langsung atas jumlah barang yang
boleh diimpor. Pembatasan ini biasanya diberlakukan dengan memberikan lisensi kepada
beberapa kelompok individu atau perusahaan. Misalnya, Amerika Serikat membatasi
impor keju. Hanya perusahaan-perusahaan dagang tertentu yang diizinkan
mengimpor keju, masing-masing yang diberikan jatah untuk mengimpor sejumlah
tertentu setiap tahun, tak boleh melebihi jumlah maksimal yang telah
ditetapkan. Besarnya kuota untuk setiap perusahaan didasarkan pada jumlah keju
yang diimpor tahun-tahun sebelumnya.
4. Pengekangan
ekspor sukarela
Bentuk
lain dari pembatasan impor adalah pengekangan sukarela (Voluntary Export Restraint),
yang juga dikenal dengan kesepakatan pengendalian sukarela (Voluntary Restraint
Agreement = ERA). VER adalah suatu pembatasan kuota atas perdagangan yang
dikenakan oleh pihak negara pengekspor dan bukan pengimpor. Contoh yang paling
dikenal adalah pembatasan atas ekspor mobil ke Amerika Serikat yang
dilaksanakan oleh Jepang sejak 1981. VER
pada umumnya dilaksanakan atas permintaan negara pengimpor dan disepakati oleh
negara pengekspor untuk mencegah pembatasan-pembatasan perdagangan lainnya. VER
mempunyai
keuntungan-keuntungan politis dan legal yang membuatnya menjadi perangkat kebijakan
perdagangan yang lebih disukai dalam beberapa tahun belakangan. Namun dari
sudut pandang ekonomi, pengendalian ekspor sukarela persis sama dengan kuota
impor dimana lisensi diberikan kepada pemerintah asing dan karena itu sangat
mahal bagi negara pengimpor.
VER
selalu lebih mahal bagi negara pengimpor dibandingan dengan tarif yang membatasi
impor dengan jumlah yang sama. Bedanya apa yang menjadi pendapatan pemerintah
dalam tarif menjadi (rent) yang diperoleh pihak asing dalam VER, sehingga VER
nyata-nyata
mengakibatkan
kerugian.
5. Persyaratan
kandungan lokal.
Persyaratan
kandungan local (local content requirement) merupakan pengaturan yang mensyaratkan
bahwa bagian-bagian tertentu dari unit-unit fisik, seperti kuota impor minyak
AS di tahun 1960-an. Dalam kasus lain, persyaratan ditetapkan dalam nilai, yang
mensyaratkan pangsa minimum tertentu dalam harga barang berawal dari nilali
tambah domestik. Ketentuan kandungan lokal telah digunakan secara luas oleh
negara berkembang yang beriktiar mengalihkan basis manufakturanya dari
perakitan kepada pengolahan bahan-bahan antara (intermediate goods). Di Amerika
Serikat rancangan undang-undang kandungan local untuk kendaraan bermotor
diajukan tahun 1982 tetapi hingga kini belum diberlakukan.
BAB
V
SIMPULAN
DAN SARAN
5.1 Simpulan
Sejak
tahun 1987 ekspor Indonesia mulai didominasi oleh komoditi non migas dimana
pada tahun-tahun sebelumnya masih didominasi oleh ekspor migas. Pergeseran ini
terjadi setelah pemerintah mengeluarkan serangkaian kebijakan dan deregulasi di
bidang ekspor, sehingga memungkinkan produsen untuk meningkatkan ekspor non
migas. Banyak manfaat yang diperoleh Indonesia dari kegiatan ekspor impor
dimana masyarakat dan perekonomian Negara menjadi lebih stabil.
Banyak
cara untuk melakukan kegiatan eskpor impor dengan Negara lain yang membuat
produsen tidak pusing memikirkan bagaimana mengekspor barang atau mengimpor
barang dari dan keluar negeri. Banyak faktor pendorong untuk melakukan kegiatan
ekspor impor sehingga kegiatan ini akan terus berjalan dikemudian hari.
5.2 SARAN
Apabila
Indonesia ingin mendapat sisi positif dalam perdagangan Indonesia maka
Indonesia harus mampu melakukan kegiatan ekspor yang lebih banyak dibandingkan
dengan kegiatan impor.
Banyaknya
masalah yang terjadi dengan adanya kegiatan ekspor impor ini sehingga
pemerintah dituntut untuk melakukan kebijakan yang benar dan tepat sasaran.
Seharusya pemerintah membuat keringan peraturan bagi barang – barang ekspor dan
impor agar kegiatan tersebut lancar.
DAFTAR PUSTAKA
NN,
2009. Makalah Ekspor Impor Indonesia.
http://cafeekonomi.blogspot.com/2009/05/makalah-ekspor-impor-indonesia.html/ diunduh 30 September 2013.
Menman,
2013.
Analisis Data Ekspor Impor
Indonesia 2013. http://nasionalis.me/tag/analisis-data-ekspor-impor-indonesia-2013/
diunduh 10 Oktober 2013.
